"you see, but you don't observe"
S.H
Absolutely you're right Mr.Sherlock, kita seharusnya mengamati, tidak hanya melihat. Dengan begitu, kita terlatih untuk peka dan empati terhadap sekitar.
Jumat, 07 Maret 2014
Rabu, 18 Desember 2013
Waktu
Hidup ini hanyalah soal waktu. Ada giliran dimana kau akan
mendapatkan waktu untuk benar-benar merasakan hidup. Hanya soal waktu kau bisa
hadir di dunia ini dengan perantara rahim seorang ibu. Hanya soal waktu kau
akan merasakan dirimu semakin lama semakin tumbuh, melihat betapa kecilnya
dirimu di masa lalu. Hanya soal waktu kau akan menghayati betapa kerasnya
permainan hidup ini, tidak seperti permainan kau di masa kecil. Hanya soal
waktu kau akan belajar mendewasakan diri, meski kau tak menginginkan hidup
menjadi seorang dewasa. Hanya soal waktu juga lah kau akan menunggu akhir
kehidupanmu.
Tulisan ini bukan sajak bukan puisi, bukan lirik bukan lagu, juga bukan fiksi bukan imajinasi. Tulisan ini hanyalah realita
yang – telah, sedang dan akan- kau hadapi dalam hidup. Tak ada yang menyadari
bagaimana cepatnya sang waktu membawamu terbang ke dimensi waktu yang –mungkin- pernah kau impikan di masa lalu, atau mungkin juga tak pernah kau harapkan
sebelumnya. Bagaimanapun, sang waktu ini benar-benar jenius, hipnosis yang
sangat hebat, dan kau terlena di dalamnya. Saat kau terbangun, tiba-tiba kau
menyadari betapa berharganya waktumu di masa lalu. Kau akan sadar bahwa kau
telah melalui waktu-waktu yang begitu mahalnya untuk kau hedonkan begitu saja. Dan
sesaat lagi, kau akan menyadari betapa singkatnya hidupmu. Lalu, akankah kau
biarkan waktumu berlalu begitu saja? Think, a
thousand times again.
Sabtu, 19 Oktober 2013
#slapping
"Jika kalian tidak bisa ikut golongan yang
memperbaiki, maka setidaknya, janganlah ikut golongan yang merusak. Jika
kalian tidak bisa berdiri di depan menyerukan kebaikan, maka berdirilah
di belakang. Dukung orang-orang yang mengajak pada kebaikan dengan
segala keterbatasan. Itu lebih baik"
-Tereliye-Eliana
-Tereliye-Eliana
Sabtu, 14 September 2013
Si Manis Yang Malang
Tersebutlah, di sebuah negeri antah berantah, hidup
sebuah keluarga sederhana, sepasang suami istri yang memiliki seorang anak
perempuan yang masih berusia 5 tahun. Keluarga ini tinggal di sebuah rumah
sederhana tapi asri. Ada jajaran kebun teh yang segar dipandang mata, tak jauh
dari rumah mereka. Disanalah sang ayah mencari nafkah, sementara sang bunda
bertanggung jawab penuh atas rumah tangga mereka. Meskipun hidup berkecukupan,
keluarga ini selalu bersyukur atas kehidupan bahagia yang diberikan Tuhan pada
mereka.
Pada suatu hari, rumah mereka kedatangan tamu, seekor
kucing putih yang lucu dan manis. Kucing tersebut mengeong-ngeong di halaman
rumah, seperti ingin meminta makan. Putri, anak perempuan mereka, menatap iba
kucing tersebut dari dalam rumah. Ia ingin sekali memberinya makan, kebetulan
di dapur masih ada sisa tulang ikan semalam. Putri mengambil tulang ikan
tersebut dan memberikannya kepada si kucing. Diam-diam dan perlahan, ia
mendekati kucing tersebut, takut kalau tiba-tiba si kucing mencakar ataupun
menggigitnya. Tapi ternyata tidak, si kucing malah patuh memakan tulang ikan
sisa tersebut. Putri pun merasa senang, hari ini ia telah menyelamatkan nyawa
seekor kucing.
Sementara si kucing asik menggigiti tulang ikan, Putri
memandanginya dengan tatapan kasih sayang. Tiba-tiba terlintas di pikiran Putri
untuk memelihara kucing tersebut di rumahnya, pasti akan seru sekali jika
kucing ini tinggal di rumah, Putri jadi punya teman main, begitu pikir Putri. Lalu
Putri pun berlari ke dalam rumah, menemui bundanya yang sedang merajut di ruang
tengah.
“Bundaaa, Putri boleh minta sesuatu gak?” tanya Putri.
“Putri mau minta apa, sayang?” Bunda bertanya balik.
“Itu loh, Bun, diluar ada kucing lucuu banget, Putri
suka. Dia boleh tinggal disini gak, Bun? Biar ada teman main Putri” jawab Putri
dengan manja.
“Kalau Putri memang suka, baiklah, Bunda ijinkan, tapi
Putri harus janji dulu sama Bunda, gimana?”
“Janjinya apa, Bun?” Putri menatap Bunda dengan tatapan
antusias, penasaran.
“Kucingnya boleh tinggal di rumah kita, tapi Putri gak
boleh tidur sama kucing ya, nanti Putri bisa sakit” Bunda berkata lembut tapi
tegas.
“Oke Bunda, Putri janji.” Putri meloncat kegirangan, dan
langsung berlari menuju tempat si kucing tadi makan. Putri mengelus-elus kepala
kucing tersebut dengan lembut, dan disambut dengan anggukan manja sang kucing.
Tak lama kemudian, ayah Putri pulang dari kebun teh. Awalnya
ayah kaget melihat ada anggota baru dalam rumahnya tapi setelah diberi
penjelasan oleh Putri dan bunda, ayah akhirnya mengerti. Bahkan, ayah membantu
Putri membuatkan kandang buat si kucing putih tersebut di depan rumah mereka. Bermodalkan
kayu-kayu balok dan papan bekas pembangunan rumah mereka dulu, dibangunlah
rumah kecil mungil untuk si kucing putih. Mereka menamakan kucing tersebut si
Manis, karena kemanisan sifatnya yang patuh dan manja pada Putri, Ayah, dan
juga Bunda. Singkat kata, keluarga bahagia ini bertambah bahagia atas kehadiran
anggota baru mereka.
Semenjak kedatangan si Manis, Putri jadi terlihat makin
senang dan semangat. Setiap pagi ketika bangun tidur, hal yang pertama
dilakukan Putri adalah menyapa si Manis, begitupun setiap kali Putri pulang
sekolah, ia tak pernah absen menyapa si Manis. Putri selalu mengajak si Manis
bermain kemanapun ia main, baik itu ke rumah teman, ataupun ke kebun teh,
tempat ayahnya bekerja. Si Manis selalu patuh, tak pernah ia membuat Putri
maupun keluarganya marah. Ia benar-benar kucing yang baik dan manis.
Suatu hari, ayah dan bunda berencana pergi menjenguk
tetangga yang sakit. Awalnya Putri diajak ikut, tapi entah kenapa hari itu
Putri mendadak nakal. Ia tidak mau diajak pergi. Putri hanya sedang ingin
bermain dengan si Manis.
“Baiklah, kalau Putri memang tidak ingin pergi, ayah sama
bunda saja yang pergi. Tapi Putri harus tetap di rumah ya, jangan kemana-mana. Main
sama si Manis aja ya di rumah” kata Ayah. “Manis, jagain Putri baik-baik ya”
Ayah mengelus-elus kepala si Manis. Ia pun mengangguk manja, seolah bilang ‘ya,
saya siap’.
Akhirnya, ayah dan bunda pun meninggalkan rumah mereka, tanpa
menyadari bahwa bahaya sedang menuju ke rumah mereka.
Sebenarnya, ayah dan bunda hanya sebentar pergi ke rumah
tetangga, tidak sampai satu jam. Tapi selama satu jam itu pulalah, sesuatu
sedang terjadi di rumah mereka, yang hanya dihuni oleh seorang gadis kecil dan
seekor kucing manis. Sesuatu yang akan merubah kehidupan mereka nantinya,
sesuatu yang menciptakan kesedihan yang mendalam bagi keluarga kecil yang
selama ini hidup bahagia, yang selalu mengucap syukur, yang selalu menebarkan
kasih sayang di lingkungan mereka.
Singkat cerita, ayah dan bunda pun kembali ke rumah. Tapi
ada pemandangan yang tak biasa di depan rumah mereka. Sekitar beberapa meter
dari pintu rumah, si Manis sedang terduduk diam di halaman rumah, tubuhnya
kacau, ada cipratan darah di beberapa titik tubuhnya. Dan yang membuat sepasang
suami istri ini kaget adalah adanya sedikit sobekan baju Putri yang berada di
mulut si Manis. Mata mereka langsung mencari-cari keberadaan Putri, tapi tidak
ada di sekitar sana. Berbagai macam pikiran melayang-layang di kepala ayah dan
bunda. Jangan-jangan, si Manis telah menggigit Putri hingga berdarah, begitu
pikirnya. Bunda langsung berlari ke dalam rumah, dan benar saja, disana tepat
di dekat daun pintu, Putri sedang terbaring lemah, entah dia sadar atau tidak
sadar. Bunda menjerit, berusaha membangunkan Putri.
Ayah yang melihat suasana tersebut, tak berpikir panjang
lagi. Ia mengambil balok kayu besar yang ada di halaman rumah. Dengan penuh
emosi, Ayah memukulkan balok kayu tersebut pada si Manis, kucing yang selama
ini disayanginya, disayangi Putrinya, kucing yang selama ini diberinya makan,
diberi tempat tinggal, kucing yang selama ini selalu dianggap adik oleh Putri
semata wayangnya, kucing yang tega menyakiti Putri nya hingga berdarah tak
berdaya, begitu pikir Ayah. Si Manis yang dipukuli hanya mengeong – menjerit kesakitan
hingga jeritan itu melemah, tak ada lagi suara yang sanggup dikeluarkannya.
Dan tepat ketika jeritan si Manis terhenti, Bunda melihat
ada sesuatu di dalam rumah. Seekor ular besar yang tubuhnya dipenuhi bekas
cakaran, berdarah-darah dan sudah tak bernyawa. Bunda kaget, darimana datangnya
ular besar ini? Apa yang terjadi padanya? Apa yang terjadi pada anak semata
wayangnya? Sebenarnya apa yang terjadi di rumah ini?
“Bunda” Putri bersuara lemah. Bunda kaget, langsung
menoleh kepada Putri dan merangkul tubuh kecilnya.
“Putri, kamu kenapa sayang? Apa yang terjadi?” tanya
Bunda setengah menangis, setengah terharu, ternyata Putri nya masih hidup. Ayah
yang daritadi sibuk dengan si Manis langsung mendekat begitu mendengar suara
Putrinya.
“Putri, kamu baik-baik saja, nak?” Ayah juga bertanya
cemas.
“Iya, Yah, Putri baik-baik saja. Putri Cuma takut”
“Takut kenapa, sayang?”
“Tadi waktu Putri lagi main sama si Manis, tiba-tiba ada
ular besar masuk ke dalam rumah. Putri takut, ular itu melilit Putri. Si Manis
juga keliatan takut, bulu-bulunya berdiri semua. Lalu si Manis menggigit dan
mencakar ular itu, Putri gak tau lagi apa yang terjadi. Putri takut”
“Jadi, si Manis bukannya menggigit Putri tapi menggigit
ular itu?” tanya Bunda
“Iya, Bunda. Si Manis mana ya, Bun? Putri mau ngucapin
makasih sama si Manis” Putri celingukan mencari kucing putih kesayangannya itu.
“Maniiis, pushh pushh, ckckck” Putri mencoba memanggil si Manis seperti biasa,
tapi sayang yang dipanggil malah tidak datang, jangankan datang, mendengar saja
ia sudah tidak bisa lagi. Si Manis sudah mati.
Malang memang, sang pahlawan yang dianggap penjahat, mati
di tangan majikan sendiri. Sang pahlawan yang rela nyawanya dipertaruhkan demi
orang yang disayang, tapi justru melayang dengan cara yang sia-sia. Sang pahlawan
yang jasanya baru diketahui setelah
kematiannya. Si Manis yang tidak bisa lagi mengeong manis. Sungguh kasihan.
Tapi yang lebih kasihan lagi adalah keluarga kecil ini,
mereka tidak tahu betapa besar perjuangan si Manis menyelamatkan nyawa Putri. Ketika
Putri berada dalam lilitan ular besar tersebut, si Manis dengan beraninya
mencakar tubuh ular yang besar itu, sehingga si ular melepaskan tubuhnya dari
tubuh Putri dan beralih melilit tubuh si Manis. Lilitan itu semakin lama
semakin kuat, dan ketika si ular bersiap menelan tubuh si Manis, dengan
kekuatan penuh si Manis berusaha mengecilkan tubuhnya dan keluar dari lilitan
si ular. Beruntung si Manis berhasil lolos, dan kemudian ia mencakar kepala
ular tersebut, hingga si ular tak bergerak lagi. Lalu bagaimana bisa ada
sobekan baju Putri di mulut si Manis? Tentu saja, sobekan baju itu berasal dari
penyelamatan si Manis ketika Putri berada dalam lilitan tubuh ular.
Sungguh malang nasib si Manis, ia hanya bisa hidup dalam
kenangan. Lebih malang lagi nasib keluarga Putri, yang memang bisa terus
melanjutkan hidup tapi dihantui bayang-bayang penyesalan. Kehidupan keluarga
kecil mereka yang bahagia tidak akan pernah sama lagi, tidak akan sebahagia
mereka bersama si Manis.
Inspired
by my father
Diceritakan
kembali oleh penulis
Diceritakan kembali
oleh penulis
Rabu, 10 Juli 2013
Bicara Hati
Apa yang akan kau lakukan jika kau patah hati? Menangis? Marah? Bercerita pada semua orang? Mengadu pada mama papa? Makan coklat atau bakso sebanyak-banyaknya? Atau hanya diam saja, menerima dengan lapang dada segala kekecewaan?
Ah, urusan hati memang sulit. Baru saja kau jatuh hati pada seseorang lalu beberapa saat kemudian hati itu patah begitu saja oleh orang yang sama. Rumit memang, kau tak bisa mengatur kapan hati itu akan jatuh, kapan hati itu akan patah, atau kapan hati itu akan kosong. Jika bisa memilih, mungkin kau akan memilih jatuh hati dengan cara yang menyenangkan, mungkin kau akan memilih patah hati dengan cara yang tidak menyakitkan, atau mungkin kau akan memilih mengosongkan hatimu agar kau hanya akan hidup tenang damai aman tenteram. Tapi pada kenyataannya kau tidak bisa mengatur kapan dan bagaimana hatimu bertindak. Kau akan selalu dikejutkan oleh debaran, getaran hati yang tak tak terduga. Mungkin saja itu debaran bahagia, atau malah getaran menyedihkan. Yang pasti, kau hanya bisa mengontrol hati itu dengan caramu sendiri, karena urusan hati ini, hanya Tuhan yang bisa mengaturnya. Hanya Tuhan yang memiliki kuasa dalam membolak balikkan hati.
Ah, urusan hati memang sulit. Baru saja kau jatuh hati pada seseorang lalu beberapa saat kemudian hati itu patah begitu saja oleh orang yang sama. Rumit memang, kau tak bisa mengatur kapan hati itu akan jatuh, kapan hati itu akan patah, atau kapan hati itu akan kosong. Jika bisa memilih, mungkin kau akan memilih jatuh hati dengan cara yang menyenangkan, mungkin kau akan memilih patah hati dengan cara yang tidak menyakitkan, atau mungkin kau akan memilih mengosongkan hatimu agar kau hanya akan hidup tenang damai aman tenteram. Tapi pada kenyataannya kau tidak bisa mengatur kapan dan bagaimana hatimu bertindak. Kau akan selalu dikejutkan oleh debaran, getaran hati yang tak tak terduga. Mungkin saja itu debaran bahagia, atau malah getaran menyedihkan. Yang pasti, kau hanya bisa mengontrol hati itu dengan caramu sendiri, karena urusan hati ini, hanya Tuhan yang bisa mengaturnya. Hanya Tuhan yang memiliki kuasa dalam membolak balikkan hati.
Rabu, 03 Juli 2013
Something Better
Percayalah, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Kata-kata
mutiara diatas memang benar. Ketika kita menghadapi sesuatu yang tidak sesuai
dengan ekspektasi kita, maka percayalah, Allah punya pengganti yang lebih baik.
Dalam hal ini, kita tidak berbicara mengenai jodoh atau pasangan hidup saja
tapi banyak kejadian-kejadian atau peristiwa lain yang tepat sekali dipasangkan
dengan kata mutiara tersebut.
Ketika
kita memilih jurusan di SNMPTN tulis, tapi ternyata kita tidak lulus. Lalu kita
bersedih hati saat itu, tapi beberapa waktu kemudian Allah meluluskan kita di
jurusan yang lain. Ternyata selama kuliah di jurusan tersebut kita berprestasi,
memperoleh IPK tinggi, aktif di berbagai kegiatan, bahkan bisajadi menjadi
ketua BEM dan ketua lain-lainnya, bukankah itu takdir yang baik?
Ketika
kita berencana pergi mendaki gunung tertinggi di Indonesia, tapi orangtua tidak
mengizinkan. Padahal kesempatan sudah di depan mata, sudah ada tiket untuk
kesana, halangannya hanya karena “izin orangtua” saja. Lalu kita memutuskan
untuk tidak pergi. Bukankah itu menyedihkan? Tapi tunggu dulu, jangan terlalu
cepat bersedih hati. Ingat yang tadi “Allah akan menggantinya dengan yang lebih
baik”. Ternyata, ketika teman-teman kita sedang ngos-ngosan di perut gunung
mencapai puncak tertinggi, kita malah mendapatkan panggilan wawancara dari
perusahaan terbesar Indonesia yang
bersedia memberikan beasiswa selama kuliah dan bersedia mengontrak kita menjadi
karyawan mereka nantinya. Bukankan itu takdir yang mengejutkan?
Ketika
kita menyukai seseorang dan ternyata orang tersebut mengecewakan kita. Bukankan
itu sangat mematahkan hati? Tapi tenang saja, Allah selalu punya pengganti yang
lebih baik. Bisajadi, ketika kita sedang menangis semalaman karena hati yang
telah telanjur patah, mungkin saat itu ada seseorang di luar sana yang berdoa
untuk bisa mendapatkan sebagian dari kasih hati kita. Bisajadi, dialah orang
yang nantinya menjadi imam kita di masa depan dan sedang bersiap memperbaiki
dirinya agar tidak mengecewakan kita. Bukankah dia adalah takdir terbaik untuk
hati kita?
Maka
percayalah, dari setiap kejadian yang kita alami, jangan lupa menyertakan Allah
dalam setiap prosesnya. Ketika kita gagal atau kecewa atau bersedih hati, Allah
akan mengganti kekecewaan, kegagalan dan kesedihan itu dengan sesuatu yang
lebih baik. Kita hanya perlu bersabar dan bersyukur. Tidak perlu berkecil hati,
atau malah depresi. Karena seperti dalam salah satu ayat suci-Nya jelas sekali
tertulis “sesungguhnya dibalik setiap kesulitan pasti ada kemudahan” (Q.S
Alam nasyrah (094) : ayat 5).
Minggu, 09 Juni 2013
Hati-hati dengan Hati
Berhati-hatilah dengan hati. Bisa jadi kebenaran hati yang kau tolak adalah kenyataan hakiki yang harus kau terima.
#sebuahquote
#sebuahquote

